Laporan Ektan struktur penerimaan usaha tani desa BP1 kec.sukaraja Kab.Seluma
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang mengutamakan
sektor pertanian dalam mewujudkan pembangunan nasional. Pembangunan merupakan suatu usaha
untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, dimana usaha tersebut dilakukan
secara terus-menerus. Pengembangan pembangunan nasional
membutuhkan sumber daya alam berupa lahan pertanian bagi para petani di
Indonesia. Lahan pertanian dialokasikan para petani sebagai tempat mata
pencaharian untuk meningkatkan pendapatan mereka. Pendapatan rumah tangga
petani dijadikan sebagai indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan ekonomi
petani. Kesejahteraan ekonomi petani dipengaruhi oleh total pengeluaran rumah
tangga dalam kurun waktu tertentu. Pengeluaran rumah tangga petani dengan
tingkat kesejahteraan ekonomi rumah tangga memiliki hubungan negatif. Oleh
karena itu, jika total pengeluaran petani semakin menurun maka semakin membaik
pula kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Pada kenyataannya, pola pengeluaran penduduk di
perkotaan dengan dipedesaan menunjukkan pola terbalik. Dipedesaan, pengeluaran
para petani cenderung digunakan untuk pangan sedangkan pengeluaran penduduk
diperkotaan ke non-pangan.
Sebagian besar penduduk di desa bukit peninjauan I bergantung pada
sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sebagian lagi mempunyai
mata pencarian lain di sektor non-pertanian, seperti kuli bangunan, supir dan
lain-lain.Sebagian besar penduduk memanfaatkan lahan mereka untuk ditanami
kebun sawit dan karet karena usaha ini dirasa cukup menjanjikan bagi para
petani. Alasanya, usaha kelapa sawit dan karet dinilai dapat meningkatkan
pendapatan mereka.
1.2.Rumusan Masalah
Bagaimana kondisi pengeluaran, penerimaan dan pendapatan
rumah tangga petani di Desa Bukit Peninjauan I baik dari sektor usaha tani
maupun non usaha tani.
1.3.Tujuan
o
Mengetahui karakteristik petani
o
Mengetahui struktur pendapatan keluarga petani
o
Mengetahui struktur pengeluaran keluarga petani
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Konsep Dan Definisi Rumah Tangga
Petani
Pengertian RTP
dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Farm Househould mempunyai
pengertian dan karakteristik antara lain adalah satu unit kelembagaan yang
setiap saat mengambil keputusan produksi pertanian, konsumsi, curahan kerja dan
reproduksi. RTP dapat dipandang sebagai satu kesatuan unit ekonomi, mempunyai
tujuan yang ingin dipenuhi dari sejumlah sumberdaya yang dimiliki. Sebagian
unit ekonomi, RTP akan memaksimalkan tujuannya dengan keterbatasan sumberdaya
yang dimiliki. Pola perilaku RTP dalam aktivitas pertanian, maupun penentuan
jenis-jenis komoditas yang diusahakan, dapat bersifat subsisten, semi komersial
sampai berorientasi ke pasar atau komersial. (Anonim)
Pada sebagaian
besar negara berkembang, termasuk Indonesia, sektor Pertanian mempunyai peranan
yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi nasional. Aktivitas di sektor
pertanian ini sebagian besar dilakukan oleh RTP. Sektor pertanian merupakan
sumber mata pencaharian penduduk, penyumbang yang cukup berarti bagi PDB,sumber
devisa dari perdagangan internasional dan tersediannya atau kecukupan pangan
secara nasional.
Nakajima (1986)
memberikan pengertian yang sangat kompleks terhadap RTP, merupakan bagian dari
mikroekonomi, khususnya ekonomi pertanian, merupakan kesatuan unit ekonomi yang
mengandung karakteristik produksi, tenaa kerja keluarga dan yang disewa, input
lain dari keluarga atau dibeli, hasil produksi yang dikonsumsi keluarga dan
juga dijual. Nakajima memandang RTP sebagai satu kesatuan uni ekonomi diantara
usahatani komersial dan usahatani yang subsisten. (Anonim)
2.2Usaha
Tani (Wholefarm)
Usahatani adalah
ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor
produksi dengan efektif, efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang
tinggi sehingga pendapatan usahataninya meningkat. (Lili, 2012)
Klasifikasi Usahatani
- Cara mengusahakan
·
Usahatani perorangan
·
Usahatani koletif
·
Usahatani kooperatif
- Sifat dan corak
Sifat dan corak usaha tani dapat
dilihat sebagai usahatani subsisten atau usahatani komersial. Usaha tani subsisten merupakan usahatani yang
hasil panennya digunakan untuk memenuhi kebutuhan petani atau keluarganya
sendiri tanpa melalui peredaran uang, sedangkan usahatani komersial yang
merupakan keseluruhan hasil panennya dijual kepasar atau melalui perantara
(pengumpul, pedagang besar dan pengecer) maupun langsung ke konsumen.
- Pola
Terdiri dari 3
macam pola, yaitu: Khusus, tidak khusus dan campuran
- Tipe
Tipe usaha tani atau usaha pertanian
merupakan jenis komoditas pertanian yang akan ditanam atau diusahaan, mis: usaha tani tanaman pangan. (Lili, 2012)
Pengeluaran Usahatani
Pengeluaran usahatani sama artinya
dengan biaya usahatani. Biaya usaha tani
merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan dan
peternak) dalam mengelola usahanya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Biaya usahatani dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya
tidak tetap (variabel cost) .
- Biaya tetap (Fixed cost/FC)
Biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus menerus dikelaurkan
walaupun output yang diperoleh banyak atau sedikit atau biaya yang tidak
tergantung secara langsung dengan tingkat produksi dalam jangka pendek.
Mis: Biaya overhead pabrik tetap, dll
Fc = (Harga input tetap per unit) x jumlah input tetap)
- Biaya tidak tetap atau biaya variabel (variabel cost/VC)
Merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi
komoditas pertanian yang peroleh atau biaya yang secara tergantung pada tingkat
output
Misal: Biaya
bahan baku dan TK langsung.
VC= (Harga input var. per
unit) x (jumlah input variabel) (Lili,
2012)
Penerimaan
(Revenue)
Penerimaan
adalah jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan
kata lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan hasil dari
penjualan hasil produksinya. Hasil total penerimaan dapat
diperoleh dengan mengalikan jumlah satuan barang yang dijual dengan harga
barang yang bersangkutan. (Ferryanto,2011).
TR = Py.Y
Dimana:
TR = Total Revenue
Py =
Harga Output perunit (Rp/unit)
y =
Jumlah output yang dihasilan (unit)
Pendapatan
(Income)à I
Pendapatan adalah hasil dari
aktivitas bisnis, seperti pendapatan sewa atau penjualan. (Syifah, 2012).
I = TR – EC
Keuntungan (Profil)
Pengertian laba secara umum adalah selisih dari
pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu (perioda) tertentu. (Anonim, 2008)
Keuntungan
∏ = TR – TC
= TR – (EC +
IC) = TR – (VC + FC)
- Analisis RCR (Revenue cost ratio) = TR/TC
- Analisis BEP (Break even point)
- Analisis proye : NPV, IRR, net BCR
NPV=
Net present value
IRR
= Internal rate of return
Net
BCR=Net benefit cost ratio (Lili,
2012)
Biaya produksi
Biaya produksi adalah pengorbanan
uang yang diperluan dalam menghasilkan produk :
- Biaya tetap(FC)àFixed cost
- Biaya Variabel (VC)
- Biaya total (TC)
Masing-masing biaya tsb dapat
dihitung rata-ratanya yaitu tiap jenis biaya tersebut tersebut dibagi dengan
jumlah produk yang dihasilkan (Q), yaitu:
Biaya tetap rata-rata/average fixed cost (AFC)
AFC =
TFC/Q
Biaya variabel rata2/average variabel cost (AVC)
AVC =
TVC/Q
Biaya total rata-rata/average total cost (ATC)
ATC =
TC/Q (Lili, 2012)
Biaya marginal/marginal cost (MC)
Adalah perubahan TC yang diaibatkan oleh perubahan satu
unit output.
MC = ∆C/∆Q= C2 – C1 = TCn – TCn-1
Q2 – Q1 ∆Q (Lili, 2012)
Penerimaan Usahatani
Penerimaan usahatani adalah perkalian
antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Penyataan tersebut dapat
dinyataan dalam rumus sbb:
TR = Y
x Py
Dimana:
TR:
Total penerimaan
Y :
Produksi yang diperoleh dalam usahatani
Py:
Harga Y (Lili, 2012)
Pendapatan Usahatani
Pendapatan usaha tani merupakan
selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau dengan kata lain pendapatan
meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor/penerimaan total adalah
nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya
produksi. Pendapatan usahatani dapat
dirumuskan sbb:
Pd = TR – TC
TR= Y.Py
TC= FC +
VC
Dimana:
Pd : Pendapatan usahatani
TR :Total Penerimaan (total revenue)
TC :Total biaya (total cost)
FC :Biaya tetap (fixed cost)
VC :Biaya variabel (variabel cost)
Y :Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani
Py :Harga (Lili,
2012)
BAB
III
METODOLOGI
PRAKTIKUM
Penelitian
dilakukan di Desa Bukit Peninjauan 1 dusun 7 kecamatan Suka Raja kabupaten
Seluma. Lokasi desa ini cukup jauh dengan jarak tempuh kurang lebih 2 jam
perjalanan menggunakan alat transportasi. Masyarakat Desa Bukit Peninjauan 1
khususnya pada dusun 7 hampir seluruh masyarakatnya berasal dari Pulau Jawa,
dan bermata pencaharian yang cukup bervariasi, ada yang petani, pekebun dan
juga buruh bangunan.
3.1.Metode Penentuan Lokasi
Pada
praktikum ektan di Desa Bukit Peninjauan 1 dalam menentukan lokasi penelitian
metode yang di ambil adalah metode survey yaitu adanya tim survey yang langsung
menuju ke lokasi untuk melihat kondisi lokasi yang akan dipilih. Lokasi yang di
pilih yaitu mayoritas penduduk bermata pencarian petani.
3.2.Metode Penentuan Responden
Dalam
plaksanaan praktikum penentuan responden sangat penting dalam mendapatkan data
sebagai sampel. Dalam penentuan responden metode yang di gunakan adalah secara
langsung turun kelapangan atau disengaja untuk menemui responden sebagai
narasember dalam penelitian. Metode ini dilakukan agar dapat mempermudah dan
mempercepat dalam mendapatkan data yang dibutuhkan.
3.3.Metode Penentuan
Pengambilan Data
Dalam
praktikum di Desa Bukit Peninjauan 1 dilakukan dengan Metode pengumpulan data
yang merupakan unsur yang penting dalam penelitian. Metode yang di gunakan
dalam penelitian ini adalah melalui study lapangan, yaitu suatu metode
pengumpulan data dengan menggunakan 2 cara yaitu observasi dan wawacara
terhadap responden (narasumber). Observasi ini dilakukan untuk memperoleh
gambaran tentang pengeluaran dan pendapatan petani, serta untuk melihat tentang
kehidupan dan keseharian petani tersebut (narasumber). Untuk Wawancara ini
dilakukan dengan menggunakan panduan yang telah disediakan oleh dosen pembina
praktikum.
3.4.Metode Penentuan Analisis
Data
Penentuan
analisis data yang kami lakukan dalam praktikum yaitu Metode kualitatif yaitu
metode yang dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan
setelah selesai dilapangan. Dalam hal ini Nasution (1988) menyatakan “ analisis
telah di mulai sejak merumuskan dan menjelaskan maslah, sebelum terjun ke
lapangan, dan berlangsung terus menerus sampai penulisan hasil penelitian.
Namun dalam penelitian kualitatif , analisis data lebih di fokuskan selama
proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.
3.5.Konsep dan Pengukuran Variabel
Konsep digunakan untuk menggambarkan secara abstrak
suatu objek. Melalui konsep ini diharapkan akan dapat menyederhanakan
pemikiran dengan menggunakan satu istilah. Seperti yang diungkapkan
Nasution (2008:161) yang mengungkapkan bahwa ”Bila seseorang dapat menghadapi
benda atau peristiwa sebagai suatu kelompok, golongan, kelas, atau kategori,
maka ia telah belajar konsep”.
Konsep yang digunakan dalam penyusunan laporan
adalah:
1) Usahatani adalah ilmu yang mempelajari tentang
cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi dengan efektif, efisien
dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatan
usahataninya meningkat
2) Pengeluaran Usahatani
Pengeluaran
usahatani sama artinya dengan biaya usahatani.
Biaya usaha tani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen
(petani, nelayan dan peternak) dalam mengelola usahanya untuk mendapatkan hasil
yang maksimal.
3) Penerimaan Usahatani
Penerimaan usahatani
adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Penyataan tersebut
dapat dinyataan dalam rumus sbb:
TR = Y x Py
4) Pendapatan Usahatani
Pendapatan usaha
tani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya, atau dengan kata lain
pendapatan meliputi pendapatan kotor atau penerimaan total dan pendapatan
bersih.Pendapatan kotor/penerimaan total adalah nilai produksi komoditas
pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi. Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sbb:
Pd = TR – TC
TR= Y.Py
TC= FC + VC
Untuk pengukuran variabel ini menggunakan pengukuran
dengan skala nominal yang merupakan himpunan yang terdiri dari anggota-anggota
yang mempunyai kesamaan tiap anggotanya dan memiliki perbedaan dari anggota
himpunan yang lain(sederajat). Seperti jenis kelamin, dibedakan antara
laki-laki dan perempuan, pekerjaan dapat dibedakan petani, pegawai, dan
pedagang. Suku bangsa dapat dibedakan antara jawa, sunda, batak, ambon.
BAB IV
KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTEK
LAPANGAN
4.1.Letak Dan
Tofografi
Desa Bukit
Peninjauan I terletak di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu
yang memiliki luas wilayah 319,71 hektar.Keadaan tofografi desa ini merupakan
daerah yang datar dan berpotensi untuk daerah pertanian dan memiliki struktur
tanah yang subur,
sumber air untuk kebutuhan pertanian ini berasal dari air hujan.Daerah pertanian yang ada pada desa ini awalnya adalah daerah
persawahaan yang kemudian beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan sebagian
perkebunan karet.
4.2.Keadaan
Tataguna Lahan
Desa Bukit
Peninjauan I banyak memanfaatkan lahannya untuk daerah perkebunan,yaitu
perkebunan sawit dan sebagian perkebunan karet.Lahan yang ada pada desa ini
sebenarnya sudah mengalami alih fungsi,yang pada awalnya lahan tersebut
dimanfaatkan sebagai lahan persawahan sekarang sudah dialih fungsikan menjadi
lahan perkebunan.Warga desa ini juga digerakkan pemerintah daerah untuk menanam
jenis tanaman holtikultura di daerah pekarangan karena desa ini memiliki
pekarangan yang cukup luas di sekitar tempat tinggal mereka dan hal ini sudah
berlangsung cukup lama dan terus berlangsung sampai saat ini dan dirasa program
ini cukup sukses dilihat dari keadaan di lapangan.Hal ini cukup bermanfaat
karena dapat mengurangi tingkat konsumsi rumah tangga mesikpun dalam hal kecil.
4.3.Keadaan Iklim
Iklim adalah rata-rata cuaca dalam periode yang
panjang.Keadaan iklim yang terdapat didesa Bukit peninjauan I adalah iklim
tropis/panas,dengan ciri iklim tropis adalah panas dan curah hujan tinggi pada
bulan-bulan tertentu.
4.4.Keadaan
Penduduk
Penduduk menurut pandangan
antropologi yaitu manusia sebagai pemangku budaya dalam segala aspek kehidupan
(pendekatan holistik). Dalam proses perkembangannya ia melahirkan ciri-ciri
yang spesifik yang kemudian berlanjut dengan munculnya
pengelompokan-pengelompokan yang disebut pluralittas (plurality).
Ciri-ciri spesifik yang dimiliki suatu kelompok penduduk menempatkannya ke
dalam ragam budaya tertentu.
Keadaan penduduk yang
terdapat didesa Bukit Peninjauan I terdiri dari berbagai macam budaya dan
prilaku,akan tetapi mayoritas penduduknya berasal dari daerah pulau Jawa
sehingga budayaannya pun budaya jawa,yakni budaya Jawa Tengah,Jawa Barat,Jawa
Timur dan Yogyakarta.
1.
Berdasarkan kelompok umur
no
|
Kelompok umur
|
Jenis Kelamin
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
||||
1
|
0-11 bulan
|
15
|
8
|
23
|
1,35%
|
2
|
1-5 tahun
|
72
|
48
|
120
|
7,07%
|
3
|
6-14 tahun
|
133
|
138
|
271
|
15,98%
|
4
|
15-49 tahun
|
492
|
498
|
990
|
58,40%
|
5
|
50-59 tahun
|
86
|
66
|
152
|
8,96%
|
6
|
>60 tahun
|
70
|
69
|
139
|
8,20%
|
jumlah
|
868
|
827
|
1695
|
100%
|
|
Dari data diatas dapat diketahui bahwa penduduk yang
sudah berumur >60 tahun ada sekitar 139 orang,penduduk yang berada pada umur
> 60 ini terkategori kedalam penduduk non produktif atau penduduk diluar
usia kerja,sementara penduduk yang terkategori kedalam usia kerja yaitu sekitar
1.142 orang yaitu dari umur 15-59 tahun.
2.
Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Berdasarkan dari data yang terdapat pada profil Desa
Bukit Peninjauan I yaitu hampir setengah dari penduduk desa masyarakatnya hanya
menempuh jalur pendidikan hanya sebatas pendidikan sekolah dasar saja yaitu
sekitar 49,61 %.Bukan hanya bukti dari data profil desa yang dilihat akan
tetapi dilihat juga pada saat melakukan survei kepada para responden
dilapangan, dari data yang diperoleh kebanyakan responden menjawab bahwa mereka
hanya menempuh pendidikan sebatas pendidikan sekolah dasar saja,sementara
sebagian kecil ada yang tamatan Sekolah Menengah Pertama dan juga Sekolah
Menengah Atas dan ada juga yang tingkat pendidikannya sampai ke Perguruan
Tinggi namun hal itu hanya sebagian kecilnya saja.
3.
Berdasarkan Mata Pencaharian
No
|
Jenis Pekerjaan
|
jumlah
|
Persentase
|
1
|
Petani
|
381
|
22,47%
|
2
|
Swasta
|
321
|
18,93%
|
3
|
PN
|
18
|
1,06%
|
4
|
Pedagang
|
48
|
2,83%
|
5
|
IRT
|
263
|
15,51%
|
6
|
Pelajar
|
369
|
21,76%
|
7
|
Buruh
|
154
|
9,08%
|
8
|
Tidak Bekerja
|
143
|
8,43%
|
Jumlah
|
1695
|
100%
|
Dari isi data yang ada pada tabel diatas diketahui bahwa
ada beragam jenis mata pencaharian penduduk yang terdapat di desa Bukit
Peninjauan I ini yaitu,warga yang bekerja sebagai petani ada 381 orang,swasta
321 orang,Pegawai Negeri 18 orang ,Pedagang 48 orang,buruh 154 orang dan
sisanya ada yang berpropesi sebagai ibu rumah tangga,pelajar dan juga dalam
keadaan tidak bekerja.
4.
Keadaan Sarana dan Prasarana
Ada beberapa
faktor yang menentukan berkembangnya suatu desa/kelurahan salah satu
diantaranya adalah faktor sarana dan
prasarana di daerah tersebut,faktor ini sangat penting untuk kemajuan suatu
daerah.Sarana adalah suatu benda/objek yang digunakan untuk mendukung aktifitas
masyarakat yang berupa bangunan ataupun berupa benda mekanik ataupun
elektronika.Prasarana adalah suatu benda yang menghubungkan antara sarana
dengan manusia untuk melakukan aktifitasnya, seperti petani dengan
cangkulnya,jalanan untuk mempermudah akses dalam pertanian dan lain
sebagianya.Tidak hanya dalam sarana pertanian saja yang dipentingkan akan tetapi
sarana pendidikan dan kelembagaan juga dirasa cukup penting untuk menentukan
perkembangan suatu daerah.
Berbagai Sarana
dan prasarana pemerintah yang tersedia didaerah ini belum begitu banyak
tersedia,hal ini berdasarkan kondisi saat berada di lokasi,yang ada hanya ada
beberapa saja,yaitu:
No
|
Jenis sarana
|
jumlah
|
1
|
Masjid
|
1
|
2
|
Mushola
|
1
|
3
|
Sekolah
|
2
|
4
|
Balai Desa
|
1
|
5
|
Posyandu
|
1
|
6
|
Koperasi
|
1
|
5.
Keadaan Usaha Tani
Penerimaan petani dari sektor pertanian didapatkan dari
penjualan hasil pertanian yaitu dari hasil kebun sawit dan kebun karet yang
petani usahakan selama ini.Untuk hasil produksinya dapat dikatakan hasilnya
belum begitu memuaskan,rata-rata produksi yang diperoleh petani untuk satu
hektarnya yaitu 1 ton untuk produksi sawit sementara 80 kg untuk produksi karet
dengan tingkat harga jual yang kadang-kadang mengalami fluktuasi,jika kondisi
perkebunannya baik produksi yang didapat petani dapat lebih dari rata-rata yang
dihasilkan.Harga normal untuk sawit biasanya Rp.1000 per kilogramnya akan
tetapi saat ini sedang mengalami penurunan yang cukup rendah yaitu hanya Rp.700
per kilogramnya.Penurunan harga ini juga tidak hanya dialami oleh petani
sawit,kondisi yang sama terjadi pada petani karet,harga karet biasanya mencapai
Rp.11.000 akan tetapi saat ini mengalami penurunan yaitu per kilonya hanya
Rp.10.000 bahkan ada yang mencapai Rp.8000 per kilogramnya,secara keselurahan
hasil produksi yang dihasilkan kebun para petani langsung dijual kepada
tengkulak.Jika dilihat dari kondisi pertaniannya terutama didaerah Dusun 7 yang
dijadikan lokasi pengamatan dapat dikatakan bahwa kondisi pertaniannya cukup baik.
BAB V
PEMBAHASAN
Indonesia adalah sebuah negara agraris yang sebagian
besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Pertanian merupakan suatu kegiatan
pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya
hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam termasuk juga
dalam bidang peternakan. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak
dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor
ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai
realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Penggerak
usaha pertanian adalah manusia.Karena itu kelancaran usaha tani sangat
bergantung pada sikap dan prilaku manusia penggeraknya.
Ada banyak subsektor
yang terdapat dalam pertanian,yang keseluruhannya harus dapat dipelajari guna
membangun usaha tani yang baik,maju dan berkembang,untuk itu juga diperlukan
berbagai ilmu yang mencakup permasalan pertanian,misalnya saja biologi dan
ekonomi.Dengan adanya ilmu biologi kita dapat mengetahui bagaimana kondisi
tanaman yang kita usahakan misalnya,begitu juga dengan ilmu ekonomi,kita dapat
mentukan harga jual kita tentang produk yang dihasilkan agar tidak mengalami
kerugian dan kita juga dapat mengetahui bagaimana kondisi pasar ,cara pemasarannya
dan masih banyak ilmu-ilmu yang harus dipelajari yang berhubungan erat dengan
dunia pertanian.
5.1.Karakteristik Responden
1) Dari hasil penelitian juga
mengungkap mengenai usia dari berbagai responden,yaitu:
No
|
Umur
|
Jumlah
|
1
|
1-5
|
4
|
2
|
6-14
|
8
|
3
|
15-49
|
18
|
4
|
50-59
|
7
|
5
|
>60
|
7
|
Dari data dapat
disimpulkan bahwa penduduk yang dapat dikategorikan kedalam usia kerja,dan
mampu untuk melakukan pekerjaan dalam pertanian adalah 25 orang dalam usia
15-59 tahun.
2) Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Kualitas SDM merupakan
salah satu hal yang berpengaruh dalam keberhasilan pembangunan suatu daerah
terutama dalam ruang lingkup pertanian,misalnya saja pendidikan dalam
lingkungan masyarakat tempat tinggal.Jika tingkat pendidikan masyarakat daerah
tersebut rendah,maka masyarakat tersebut akan sulit untuk menerima setiap
perubahan yang terjadi karena kurangnya pengetahuan mereka,misalnya saja
perubahan dalam teknologi pertanian dan hal ini merupakan salah satu faktor
yang menjadi penyebab terhambatnya proses penbangunan suatu daerah,dan dapat
diketahui bahwa tingkat pendidikan penduduk desa Bukit Peninjauan I ini hampir
setengah persen dari penduduknya hanya menempuh pendidikan sebatas bangku
sekolah dasar saja yaitu sebanyak 49,61 % dan dapat dikatakan tingkat pendidikan
penduduk didesa ini tergolong cukup rendah.
3) Keaadaan pengalaman usaha tani
Keadaan pengalaman usaha
tani yang didapat oleh para petani mengenai ilmu-ilmu yang berhubungan dalam
dunia pertanian mereka dapatkan dari orang-orang yang didatangkan untuk melakukan
penyuluhan terhadap pertanian didesa ini seperti dari lembaga penyuluh
pertanian dan rata-rata petani yang berada di desa Bukit Peninjauan i ini telah
berpuluh tahun melakukan usaha tani. Jadi pengetahuan yang mereka dapat bukan hanya dari penyuluhan namun
dari pengalamanlah yang paling kuat dan di mengerti petani berdasarkan berbagai kondisi yang
terjadi di lapangan.
4)
Keadaan tanggungan petani
Keadaan
tanggungan petani merupakan semua orang yang tinggal didalam rumah petani
tersebut,baik ibu,bapak,nenek,keke,anak,cucu dan lainnya,semuanya itu merupakan
tanggungan bagi petani tersebut.
5)
Keadaan pekerjaan diluar usaha tani
Penduduk desa
Bukit Peninjauan I tidak semua penduduknya bermatapencaharian sebagai
petani,ada bagian dari mereka yang bekerja diluar dari sektor pertanian
misalnya ada yang menjadi kuli bangunan dan ada juga yang menjadi pedagang
kecil.hal tersebut dilakukan mereka unutk menunjang kondisi perekonomian dalam
rumah tangganya,dan jika mereka hanya mengandalkan dari produksi pertanian dirasa
belumcukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
5.2.Pola Penguasaan Lahan
Petani-petani
yang berada didesa Bukit peninjauan I berdasarkan dari hasil wawancara yang
telah dilakukan pada saat survei dilapangan bahwa para petani sangat baik dalam
menguasai lahan pertanian.Lahan pertanian yang ada didesa ini adalah lahan
perkebunan sehingga tidak perlu perawatan yang terlalu intensif terhadap lahan
tersebut ditambah lagi dengan kondisi tanaman yang sudah tumbuh besar,petani
hanya perlu untuk memangkas rumput-rumput yang berada di bawah tanaman agar
tidak mengganggu tanaman tersebut.Hal ini terus dilakukan petani sehingga lahan
perkebunan mereka terkelola dengan baik.
5.3.Potensi Ekonomi Rumah Tangga Responden
1.
Penghasilan RT
Desa bukit peninjauan 1 dalam
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari memiliki penghasilan rt yang beragam,
mulai dari sektor pertanian hingga di luar sektor pertanian.
1.1.Disektor Pertanian
Para petani Desa Bukit Peninjauan 1
khususnya dusun 7 dalam penghasilan rt disektor pertanian berupa perkebunan
sawit, karet dan ada juga perternakan. Namun dari penghasilan ini tidak
sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga para petani ada yang
bekerja di luar sektor pertanian.
1.2. Diluar
Sektor Pertanian
Penghasilan RT Desa Bukit Peninjauan
1 khususnya dusun 7 selain dari sektor pertanian juga ada yang di luar sektor
pertanian seperti kulibangunan, pedagang, pns, dan bengkel. Dari penghasilan
ini lah mampu untuk membantu kebutuhan hidup masyarkat/para petani.
2.
Pengeluaran Rumah Tangga Responden
Pengeluaran rumah tangga petani adalah total keseluruhan
biaya yang dikeluarkan oleh para petani untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga
mereka. Pengeluaran rumah tangga petani terbagi menjadi beberapa jenis yaitu
pengeluaran di sektor pertanian dan sektor non pertania.
2.1
Pengeluaran Untuk Sektor Pertanian
Pengeluaran
sektor pertanian adalah pengeluaran seluruh jumlah biaya
yang dikeluarkan untuk kegiatan pertanian mulai dari biaya bibit, pupuk, pestisida,
saprotan (alat pertanian), dan upah orang yang bekerja dalam kegiatan pertanian
tersebut mulai dari pengolahan lahan sampai ke penjualan. Dari hasil wawancara
yang kami lakukakn di desa Bukit Peninjauan I biaya pengeluaran untuk alat
pertanian yang mereka lakukan adalah berkisar antara Rp.425.00 hingga
Rp.715.000 mereka mendapatkan alat pertanian rata-rata bersumber dari toko
pertanian ataupun dari pasar. Pengeluaran untuk biaya pupuk baik biaya pupuk
organik (kandang) maupun biaya pupuk kimia seperti KCL, NPK, UREA, dll berkisar
antara Rp.200.000 hingga Rp.500.000. Pengeluaran untuk biaya bibit pada saat
ingin mulai melakukan kegiatan usaha tani untuk bibit sawit yang berkualitas
bagus berkisar antara Rp.5000/batang dan kapasitas lahan yang memiliki luas 1
Ha membutuhkan 120 bibit, sedangkan untuk bibit karet yang memiliki kualitas
bagus harganya berkisar Rp.2.500/batang dan untuk luas lahan 1 Ha membutuhkan
400 buah bibit. Selain itu, biaya yang dikeluarkan oleh para petani adalah
biaya tenaga kerja yang upah nya dibedakan antara wanita dan pria namun jam
kerjanya sama yaitu 8 jam kerja mulai dari jam 8 sampai jam 4, ini karena
tenaga wanita dianggap lebih rendah sehingga upah kerja wanita Rp.35.000/hari
dan untuk pria Rp.50.000/hari. Dan dari hasil wawancara yang kami lakukan para
petani tidak terlalu sering mengeluarkan biaya untuk mengupah orang karena
rata-rata mereka melakukan sendiri kegiatan pertanian di lahan mereka, hanya
saja bagi petani sawit jika melakukan pengupahan saat melakukan pemanenan yang
upah nya Rp.100.000/Ha untuk satu kali pemanenan, dan biasanya pemanenan
dilakukan dua kali dalam satu bulan. Dan rata-rata pengeluaran petani berkisar
antara Rp.400.000 hingga Rp.600.000.
2.2
Pengeluaran Untuk Sektor Non Pertanian
Pengeluaran
para petani yang kami wawancarai adalah pengeluaran modal untuk membuka usaha
untuk mendapatkan pendapatan di luar usahatani, karena hanya mengandalkan
pendapatan dari pertanian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari. Usaha yang di buat seperti berternak dan ada juga yang membuka warung. Selain itu pengeluaran petani
di desa Bukit Peninjauan I ialah pengeluaran untuk pendidikan anak-anak mereka
yang berkisar antara Rp.200.000 hingga Rp.500.000 per bulan. Serta pengeluaran yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga petani yang berkisar antara Rp.400.000 hingga Rp.1.000.000 per bulan .
Pengeluaran rumah tangga
masyarakat desa Bukit Peninjauan I dapat dikelompokkan menjadi pengeluaran
untuk pangan dan pengeluaran non pangan. Pengeluaran pangan terdiri atas beras,
lauk-pauk dan sayur, bumbu-bumbuan, gula/kopi/teh, buah, susu, rokok/tembakau
dan makanan jadi. Pengeluaran non pangan
terdiri dari pengeluaran untuk penerangan, bahan bakar, air bersih, kebutuhan
kebersihan diri, pendidikan, pakaian, kesehatan, transportasi, perbaikan rumah, dan kegiatan sosial.
2.3
Total Pengeluaran keluarga Petani
Total
pengeluaran keluarga petani adalah
jumlah keseluruhan biaya – biaya yang di keluarkan dalam keluarga petani
tersebut. Total pengeluara keluarga petani dibagi atas dua yaitu total
pengeluaran keluarga petani untuk pertanian ( usaha tani ) dan total
pengeluaran untuk usaha non pertanian termasuk untuk memenuhi kebutuhan
keluarga petani tersebut. Jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk usaha
tani mulai dari bibit, pupuk, alsintan, dan upah / gaji para pekerjan. Total
pengeluaran untuk non pertanian yaitu jumlah keseluruhan dari usaha warung,
peternakan (usaha sampingan) baik berupa barang maupun jasa serta seluruh biaya
yang di keluarkan dari pemenuhan kebutuhan keluarga petani seperti beras, lauk
pauk, sayuran (pangan) dan non pangan seperti bensin, baju, biaya sekolah,
kopi, gula dan lain – lain. Dan total pengeluaran keluarga petani di desa Bukit
Peninjauan I berkisar antara Rp.500.000 hingga Rp.1.220.000 per bulan.
3. Pendapatan Rumah Tangga Responden
Pendapatan keluarga
petani adalah dihitung dari pendapatan bersihnya yaitu jumlah pendapatan dari usaha
tani dikurangi dengan semua biaya-biaya yang dikeluarkan untuk usaha
pertaniannya kecuali input dalam keluarga misalnya tenaga kerja keluarga dan
modal pribadi. Atau dengan kata lain pendapatan adalah
selisih antara penerimaan yang diperoleh petani dengan biaya produksi yang
harus dikeluarkan oleh petani.Sumber pendapatan petani dapat dibagi menjadi dua
bagian yaitu pendapatan dari sektor pertanian dan dari sektor non pertanian.
3.1 Disektor Pertanian
Pendapatan dari sektor pertanian didapat dari hasil pendapatan
perkebunan (sawit dan karet) dan sebagian dari peternakan (peternak ayam),namun
dari segi peternakan tidak terlalu dapat diperhitungkan kerena skalanya masih
sangat kecil.
3.2
Disektor non pertanian
Pendapatan dari sektor non pertaniann,pendapatannya
didapat dari perdagangan,kulibangunan,supir,PNS dan bengkel,yang hasil
pendapatannya digunakan sebagai penunjang perekonomian rumahtangga petani.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa sektor pertanian
tidak seluruhnya dijadikan masyarakat sebagai sumber utama pendapatan
mereka,hal ini karena produksi yang dihasilkan tidak dapat ditaksirkan jumlah
produksinya dan juga proses pemanenan dilakukan dalam jangka waktu tertentu
sementara petani harus membiayai rumah tangga setiap harinya.
3.3 Total Pendapatan Rumah Tangga
Total
pendapatan rumah tangga didapat dari pendapatan yang berasal dari sektor
pertanian dan sektor non pertanian yamg keseluruhannya digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan rumah petani.
5.4.Faktor-Faktor Pendukung Kegiatan Pertanian Didesa Praktikum
Kelembagaan
memiliki peran yang sangat penting untuk medukung keberhasilan suatu usaha
dalam pertanian. Tercapainya keberhasilan pengembangan
pembangunan pertanian berkaitan erat dengan peran kelembagaan sebagai
pendukungnya.
a.
Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan sosial penduduk desa BP I adalah mayoritas
penduduknya berasal dari pulau jawa,penduduknya terbilang cukup ramah dan juga
bersikap terbuka terhadap orang yang datang kedesa mereka dan hal ini dilihat
dari kondisi saat dilapangan.Sementara keadaan ekonomi desa ini termasuk
kedalam kelas rendah dan menengah,jenis pekerjaan penduduknya heterogen tapi
mayoritas sebagi petani,namun pertanian tidak dijadikan seluruh penduduk
sebagai sumber utama perekonomian rumah tangganya.
b.
Sarana dan Prasarana penunjang
Sarana dan prasarana didesa ini dapat dikatakan belum
begitu banyak tersedia,sarana yang telah ada seperti balai
desa,sekolah,mushola,masjid,puskesmas,dan koperasi.Sarana dan prasarana ini
sanagt dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pembangunan daerah.
c.
Koperasi
Koperasi merupakan salah satu jenis lembaga keuangan
yang dibentuk oleh beberapa orang yang bertanggung jawab terhadap lembaga
tersebut.Di Desa Bukit Peninjauan I terdapat sebuah koperasi desa yang belum
begitu lama didirikan.Akan tetapi nampaknya koperasi ini belum begitu maju
didesa ini dan keikutsertaan masyarakat terhadap koperasi terbilang rendah,hal
ini terbukti saat dilapangan karena banyak warga masyarakat yang menyatakan
bahwa mereka tidak ikut serta dalam koperasi,alasan yang diungkapkan diantaranya
tidak ada biaya pemasukan.
d.
Kelompok tani
Kelompok tani sangat perlu diberdayakan karena
bermanfaat bagi kemajuan petani. Tercapainya keberhasilan pelaksanaan
pembangunan pertanian di perdesaan, salah satunya bila dilakukan sosialisasi
melalui kelompok tani.Keberadaan kelompok tani sangat membantu para
petani,karena melalui kelompok tani para petani dapat mennyampaikan
permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam pertaniannya yang kemudian
didiskusikan bersama kelompok untuk penyelesaiannya.Kelompok tani ini merupakan
salah satu bentuk kerjasama,tempat berbagi pengalaman dan lain sebagainya.
e.
Penyuluhan Pertanian
Penyuluhan pertanian merupakan salah satu lembaga dalam
pertanian,yang berfungsi untuk membantu para petani,penyuluh juga berfungsi
untuk menyampaikan informasi-informasi yang terkait kedalam
pertanian.Penyuluhan pertanian sudah beberapa dilakukan didesa Bukit peninjauan
I ini,penyuluhan yang disampaikan berkaitan dengan pertanian yang terdapat
didesa tersebut.Melalui penyuluhan ini masyarakat dapat langsung menanyakan
hal-hal yang menjadi permasalahan pertaniannya.
f.
Kegiatan gotong royong
Kegiatan gotong royong tidak terlalu sering dilakukan
didesa Bukit peninjauan I pada akhir-akhir ini,hal ini jauh berbeda dengan
beberapa tahun yang lalu,informasi ini didapat dari beberapa pernyataan
responden saat dilapangan. Kegiatan gotong-royong yang biasanya dilakukan hanya
ketika ada tamu yang akan berkunjung ke Desa Bukit peninjauan I dan bahkan
biasanya kegiatan ini hanya diserahkan kepada orang tertentu yang kamudian
diberi imbalan,warga hanya diminta pungutan biayanya saja.
BAB VI
PENUTUP
Kesimpulan
·
Pendapatan merupakan semua penerimaan baik dari usahatani maupun
diluar usahatani di kurang dengan semua pengelura dari keluarga petani baik
untuk usahatani maupun untuk luar usahatani dan pengeluaran untuk memenuhi
kebutuhan hidup.Hasil pengurangan inilah yang dinamakan pendapatan.
·
Penerimaan keluarga petani semua masukan dari hasil usahatani maupun
dari usaha sampingan yang dilakukan petani.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011.
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/55009/BAB%20II%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf?sequence=4. Di akses Pada tangga 10
Januari 2013.
Diakses pada tanggal 16 Januari 2013.
Ferryanto,2011. Pengertian-Penerimaan-Jenis-Jenis
Di akses pada tanggal 10 Januari 2013.
Diakses pada tanggal 16 Januari 2013.
Winarti Lili. 2012. Usaha tani serta pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani.
Erlangga. Jakarta.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda